Assalamu Alaikum Wr.Wb.

Agama Islam adalah agama yang menjaga kesucian lahiriah maupun bathiniah, Islam telah mengatur segala hal-hal yang berkaitan dengan masalah tersebut. Dalam Islam, istilah menyucikan lahiriah ini dikenal dengan istilah thaharah. Thaharah adalah kegiatan bersuci yang harus dilakukan oleh setiap umat Islam, saat melakukan hal-hal tertentu seperti halnya melaksanakan shalat dan tawaf.

Sebagai seorang mukmin pasti akan memperhatikan tentang adab buang air kecil dan besar. Sebab dalam Agama Islam sudah memberikan syariat yang benar terkait hukum dan tata cara dalam bersuci. Bahkan sampai sekecil apapun perkara itu, Al-Quran dan Sunnah sudah mengaturnya. Sebagaimana firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW :

اِنَ اللهَ يُحِبُ التَوَابِيْنَ وَيُحِبُ اْلمُتَطَهِرِيْنَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri.”    (QS. Al-Baqarah: 222)

لَايُقْبَلُ اللهِ الصَلَاةَ بِغَيْرِ طَهُوْرُ

“Allah tidak akan menerima shalat yang tidak dengan bersuci.” (HR. Muslim)

Termasuk ketika buang air kecil dan buang air besar, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah mengajarkan tata cara dan adab-adabnya.

Bang

Berikut adab buang hajat menurut Islam :

  1. Menghindari buang hajat pada tiga tempat

Adab pertama dalam buang air kecil maupun buang air besar dalam Agama Islam adalah menghindari 3 tempat. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda :

اتَّقُوا الْمَلاَعِنَ الثَّلاَثَةَ : الْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ  وَالظِّل

“Takutlah (buang hajat) pada tiga tempat yang (mendatangkan) laknat: buang air besar di sumber mata air, di tengah jalan dan di naungan (pohon).” (HR. Abu Dawud ).

Nabi Muhammad salhallallahu alaihi wasallam telah melaknat umatnya yang membuang hajat di tempat-tempat seperti sumber mata air, di tengah jalan dan di bawah pohon sehingga apabila ingin membuang hajat terutama saat perjalanan maka carilah tempat yang jauh dari tempat tersebut.

  1. Menutup diri dan menjauh dari manusia

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَأْتِى الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يُرَى.

“Maka beliau  (Rasulullah) pergi menjauhi hingga beliau menutup diri dari dariku, lalu beliau buang hajat.” ( HR. Bukhari dan Muslim )

  1. Tidak buang air kecil pada air yang menggenang

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam juga melarang umatnya buang air kecil pada air yang menggenang yaitu Air yang tidak mengalir. Hal ini berdasarkan hadits,

أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِى الْمَاءِ الرَّاكِدِ

“Rasulullah melarang dilakukan kencing pada air yang menggenang (tidak mengalir).” (HR. Muslim ).

Berdasarkan fatwa Syeikh Abdul Aziz Bin Baz tidak boleh pula buang air kecil di sumur, demikian juga pada bak mandi (apabila tutup salurannya ditutup) karena hukumnya sama dengan air yang menggenang

  1. Tidak menghadap kiblat dan juga membelakangi kiblat

Adab buang air yang keempat ialah tidak menghadap Kiblat atau membelakanginya. Berdasarkan sabda Nabi :

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الْغَائِطَ فَلاَ يَسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَلاَ يُوَلِّهَا ظَهْرَهُ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا.

“Apabila salah seorang di antara kalian datang ke tempat buang hajat maka janganlah dia menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya dengan punggungnya, akan tetapi menghadaplah ke timur atau menghadaplah ke barat.” (HR. Bukhari )

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نَهَى نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ بِبَوْلٍ فَرَأَيْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ بِعَامٍ يَسْتَقْبِلُهَا

Dari Jabir bin Abdullah dia berkata Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang kita menghadap kiblat tatkala buang air kecil, kemudian saya melihat beliau setahun sebelum wafat, buang air kecil menghadap kiblat.

Sabda Nabi yang terkait “menghadaplah sebelah timur atau barat” tersebut ditujukan untuk yang berada di Madinah, karena Madinah terletak di sebelah utara Makkah, sehingga diperintahkan menghadap barat atau timur untuk menghindari arah kiblat. Mengenai hadits ini, Ulama berpendapat hadist tersebut berlaku di saat buang hajat pada tempat terbuka. Sedangkan apabila di dalam bangunan atau kamar mandi, maka boleh menghadap dan membelakangi kiblat.

  1. Berdoa sebelum masuk tempat buang hajat

Hendaklah orang yang masuk tempat buang hajat mengucapkan,

كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

Nabi ketika masuk kamar mandi berdoa , Bismillah  “Dengan menyebut nama Allah” dan berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari setan laki-laki dan setan perempuan.”

Ketika keluar dari tempat buang hajat hendaklah berdoa,

غُفْرَانَكَ

“Aku memohon (kepadaMu) ampunanMu.”

  1. Dilarang menjawab salam di tempat buang hajat

Salah satu adab buang air kecil dan besar adalah tidak menjawab salam di tempat buang hajat. Karena Makruh hukumnya berbicara saat sedang buang hajat apalagi ngobrol. Berdasarkan dalil dari hadits nabi,

أَنَّ رَجُلاً مَرَّ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَبُولُ فَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ

“Bahwasannya seorang laki-laki melewati Nabi lalu dia mengucapkan salam kepada beliau maka beliau tidak menjawab salamnya.” (HR. Muslim ).

Karena waktu itu beliau sedang dalam keadaan membuang hajat dan beliau tidak akan menjawab perkataan seseorang kecuali untuk suatu keperluan yang darurat seperti meminta dibawakan air atau semacamnya.

  1. Tidak membawa sesuatu yang bertuliskan nama allah

Masuk kamar mandi atau ketika buang air hendaknya tidak membawa sesuatu yang terdapat tulisan Allah. Misalnya cincin, baju, jam tangan. Seorang muslim harusnya mengangungkan nama Allah, sedangkan jamban adalah tempat yang kotor sehingga sangat tidak pantas bila membawa sesuatu yang terdapat nama Allah saat buang hajat.

Semoga Keluarga Multazam Utama dapat mempraktekannya, Allah senantiasa melimpahkan pahala untuk kita.

Wassalamu Alaikum Wr.Wb

Sumber: Figh Thaharah Kontemporer