Assalamu Alaikum Wr.Wb.

Suraqah adalah seorang sahabat dari Quraisy yang pernah memiliki niat untuk membunuh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam karena iming-iming hadiah menggiurkan yang dijanjikan oleh pembesar Quraisy. Namun, bukannya jadi membunuh Nabi, justru beliau malah masuk Islam dan menyelamatkan Rasulullah dari kejaran kafir Quraisy. Kisah ini dimulai saat orang-orang Quraisy sedang dilanda kekhawatiran dan kepanikan. Karna di pagi hari mereka mendengar berita tentang kepergian Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan Abu Bakar menuju Madinah. Namun, para petinggi Quraisy seperti Abu Jahal, Umayyah dan lainnya tidak percaya berita tersebut.

Mereka kemudian membuat pengumuman ke segenap kabilah yang terpencar-pencar sepanjang jalan antara Makkah dan Madinah. “Siapa yang berhasil membawa Muhammad hidup atau mati ke hadapan para pembesar Quraisy, akan diberi hadiah seratus ekor unta betina yang bagus,” demikian bunyi pengumuman itu. Suraqah bin Malik Al-Madlaji mendengar pengumuman itu dibacakan. Ketika itu sedang berada di balai desa kampung halamannya, Qudaid, di pinggiran Kota Makkah. Setelah mendengar hadiah seratus ekor unta betina pilihan, maka timbullah sikap tamak Suraqah. Dia bertekad hendak merebut hadiah besar itu. Karena tamak, niatnya itu tidak diungkapkannya kepada siapa pun. Tetapi dipendamnya sendiri dalam hati, supaya ia tidak didahului orang lain. Ia memerintah pelayan menyiapkan kuda. Kemudian disuruhnya membawa kuda itu ke lembah dengan sembunyi-sembunyi dan menambatkannya di sana. “Hati-hati agar tidak kelihatan oleh orang lain. Siapkan juga senjataku, dan kamu keluar dari pintu belakang,” kata Suraqah memerintah pelayannya. Suraqah menyusul kemudian. Sesampainya di lembah, Suraqah mengenakan baju besi, menyandang pedang, dan memasang pelana. Kemudian dia berpacu sekencang-kencangnya, menyusul Nabi Muhammad SAW untuk mendapatkan hadiah besar yang disediakan kaum Quraisy.

Suraqah memacu kudanya dengan pesat. Tetapi tanpa terduga-duga, tiba-tiba kaki kudanya tersandung, dan dia jatuh terguling dari punggung kuda. “Kuda sialan!” katanya menyumpah kesal. Tanpa memedulikan rasa sakit, dinaikinya kembali kudanya dan segera berpacu. Belum jauh dia lari, kudanya tersandung pula kembali. Hatinya kesal dan merasa sial. Karena itu dia bermaksud hendak pulang saja kembali dan mengurungkan niatnya. Tetapi karena tamak akan beroleh hadiah 100 ekor unta, diteruskannya juga pelacakan itu. Belum begitu jauh dia berpacu dari tempatnya jatuh yang kedua, dia melihat Rasulullah SAW  bersama sahabatnya. Lalu diulurkannya tangannya hendak mengambil busur. Tetapi ajaib, tiba-tiba tangannya kaku tidak dapat digerakkan. Kaki kudanya terbenam ke pasir. Debu berterbangan di sekitarnya menyebabkan matanya kelilipan dan tidak dapat melihat. Dicobanya menggerakkan kuda tetapi tidak berhasil. Kaki kudanya seperti lekat di bumi bagai dipaku. Dia berpaling kepada Rasulullah dan sahabatnya sambil berseru dengan suara memelas, “Hai kalian berdua, berdoalah kepada Tuhanmu supaya dia melepaskan kaki kudaku. Aku berjanji tidak akan mengganggu kalian!” Rasulullah berdoa, maka bebaslah kaki kuda Suraqah. Tetapi karena tamaknya, maka setelah dia bebas, digertakkannya kudanya dengan tiba-tiba hendak menyerang Rasulullah tanpa memedulikan janjinya. Namun malang baginya, kaki kudanya terbenam pula kembali lebih parah dari semula. Suraqah memohon belas kasihan kepada Rasulullah dan berkata, “Ambillah perbekalanku, harta dan senjataku. Aku berjanji demi Allah kepada kalian berdua, akan menyuruh kembali setiap orang yang berusaha melacak kalian di belakangku.” “Kami tidak butuh perbekalan dan hartamu. Cukuplah kalau engkau suruh kembali orang-orang yang hendak melacak kami!” jawab Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah berdoa, maka bebaslah kaki kuda Suraqah.

Imam Bukhâri rahimahullah juga meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu Anhu yang menjelaskan sebagian peristiwa ini. Setelah Surâqah gagal dengan apa yang menjadi keinginannya, ia berkata :

يَا نَبِيَّ اللَّهِ مُرْنِي بِمَا شِئْتَ قَالَ فَقِفْ مَكَانَكَ لَا تَتْرُكَنَّ أَحَدًا يَلْحَقُ بِنَا قَالَ فَكَانَ أَوَّلَ النَّهَارِ جَاهِدًا عَلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ آخِرَ النَّهَارِ مَسْلَحَةً لَهُ

“Wahai Nabiyullah, perintahkan aku semaumu!” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tetaplah kamu di tempatmu. Jangan engkau biarkan satu orangpun menyusul kami”.

Suraqah berkata : Saya yakin agama yang Tuan bawa akan menang dan pemerintahan Tuan akan tinggi. Berjanjilah kepadaku, apabila aku datang nanti ke kerajaan Tuan, maka Tuan akan bermurah hati kepada saya. Tuliskanlah itu untuk saya,” pinta Suraqah. Rasulullah menyuruh Abu Bakar menulis pada sepotong tulang, lalu diberikannya kepada Suraqah sambil berkata, “Bagaimana, hai Suraqah, jika pada suatu waktu engkau memakai gelang kebesaran Kisra?” “Gelang kebesaran Kisra bin Hurmuz?” tanya Suraqah terkejut. “Ya, gelang kebesaran Kisra bin Hurmuz!” jawab Rasulullah meyakinkan.

Ketika Fathu Makkah, Suraqah menyatakan Islamnya, hanya lebih kurang sembilan bulan sesudah Suraqah menyatakan Islamnya di hadapan Rasulullah, Allah SWT memanggil Nabi-Nya kehadirat-Nya. Alangkah sedihnya Suraqah ketika mengetahui Rasulullah telah tiada. Dia teringat kembali ucapan Rasulullah kepadanya, “Bagaimana hai Suraqah, jika engkau memakai gelang kebesaran Kisra?” Suraqah tidak pernah ragu, suatu saat pasti dia akan memakai gelang tersebut. Hari demi hari berjalan terus. Tampuk pemerintahan kaum Muslimin kini berada di tangan Khalifah Umar bin Khathab Al-Faruq.  Pada suatu hari, akhir masa pemerintahan Khalifah Umar, beberapa utusan panglima Sa’ad Abi Waqqash (penakluk Persia) tiba di Madinah. Mereka melaporkan kemenangan-kemenangan yang dicapai tentara Muslimin, dan menyetorkan kepada Khalifah seperlima harta rampasan yang diperoleh dalam perang Sabilillah. Di dalam harta tersebut terdapat pula dua buah gelang kebesaran Kisra cantik tiada tandingan. Dan berbagai macam perhiasan raja-raja, ratu dan pangeran. Semuanya serba indah tiada ternilai harganya.

Sesudah itu, Khalifah Umar Al-Faruq memanggil Suraqah bin Malik. Lalu dipakaikannya kepada Suraqah pakaian kebesaran Kisra, lengkap dengan celana dan sepatunya. Kemudian disisipkannya pedang dengan ikat pinggang kebesaran Kisra. Diletakkannya mahkota di kepala Suraqah. Sesudah itu dipakaikannya pula gelang kebesaran kerajaan di kedua tangan Suraqah. Kaum Muslimin memuji kagum dengan mengucapkan kalimat takbir, “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Khalifah berdiri mematut-matut Suraqah seraya berkata, “Wah, wah! Alangkah hebatnya anak Arab dusun Madlaji memakai mahkota dan gelang kebesaran Kisra!” Setelah itu, harta tersebut dibagi-bagikannya kepada kaum Muslimin.

Semoga kisah ini menjadi inspirasi Keluarga Multazam Utama selalu khusnudzon billah terhadap segala sesuatu yang kita alami.

Wassalamu Alaikum Wr.Wb

Sumber: Sirah Nabawiyah fi Dhau`il Mashâdiril-Ashliyyah