Assalamu Alaikum Wr.Wb

Keluarga Multazam Utama Tour….

Akhir-akhir ini beberapa daerah di Negara kita mengalami bencana alam mulai banjir, tanah longsor, angin puting beliung dll.  Hidup ini adalah roda  kehidupan yang berputar. Kadang kita berada diatas dan kadang pula kita berada dibawah. Sebagai orang iman kita harus memahami bahwa musibah adalah sebuah ujian dan cobaan yang datang dari Allah SWT untuk mengetahui keimanan hambaNya. Bahkan cobaan dan ujian adalah bentuk rasa cinta Alloh sesuai sabda Rosululloh :

وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya. (HR. Ibnu Majah)

Ujian dan cobaan adalah merupakan sunatulloh bagi orang iman yang pasti menimpa mereka sebagaimana firman Alloh :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَراتِ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqoroh 155)

Bagaimanakah Orang Iman menyikapi Ujian dan Musibah …?

Berikut beberapa tingkatan dan sikap orang iman ketika menghadapi cobaan :

Pertama adalah marah dengan takdir yang Allah berikan

Orang yang marah dengan takdir Allah, maka ia diancam terjerumus dalam perbuatan kesyirikan dengan sebab ia mencela takdir. Dan marah kepada takdir pada hakikatnya marah kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Dan di antara manusia, ada yang menyembah Allah di pinggiran. Jika ia diberi nikmat berupa kebaikan, maka tenanglah hatinya. Namun jika ujian menimpanya, maka berubahlah rona wajahnya, jadilah ia merugi di dunia dan di akhirat. (QS. Al-Hajj: 11).

Jika ia marah dengan lisannya, akan muncul kata-kata berupa umpatan, celaan, bahkan perkataan celaka dan yang semisal dengannya. Jika ia marah dengan perbuatannya, ia akan melakukan perbuatan seperti menampar pipi, merobek kerah baju, menarik narik rambut dan perbuatan yang semisal.

Kedua adalah Sabar dengan takdir yang Allah berikan

Tingkatan kedua adalah sabar, sebagaimana ungkapan seorang penyair arab,

الصَّبْرُ مِثْلُ اسْمِهِ مَرُّ مَذَاقَتُهُ لَكِنْ عَوَاقِبَهُ أَحْلَى مِنَ العَسَلِ

Sabar itu memang seperti namanya (sebuah nama tumbuhan), yang rasanya pahit ىamun hasil dari kesabaran akan lebih manis dari madu

Ketika seseorang merasakan beratnya ujian dan tidak suka dengan ujian yang menimpanya, namun ia lebih memilih bersabar karena keimanannya menghalanginya untuk marah.

Bersabar ketika menghadapi cobaan hukumnya wajib, sabar adalah tingkatan yang paling minimal yang dimiliki oleh seorang Muslim ketika menghadapi cobaan. Adapun tingkatan yang lebih tinggi dari sabar, hukumnya sunnah dan lebih afdhal (utama).

Ketiga adalah Ridha dengan takdir yang Allah berikan

Tingkatan ketiga lebih tinggi dari tingkatan sebelumnya, yaitu Ridha. Ia jadikan ujian dan nikmat yang menimpanya sama saja, yaitu sama-sama bagian dari takdir dan ketetapan Allah, meskipun musibah tersebut membuat hatinya sedih, karena ia adalah seorang yang beriman pada qadha dan qadar.

Dimana saja Allah tetapkan qadha dan qadarnya, seperti tertimpa kesulitan atau mendapatkan kemudahan, tatkala mendapat nikmat atau sebaliknya yaitu tertimpa musibah, semua itu sama saja baginya. Jika ia melihat dalam kacamata takdir Allah, baginya sama saja antara nikmat dan musibah. Sehingga hal inilah yang menjadi pembeda antara sabar dan ridha.

Keempat adalah Syukur dengan takdir yang Allah berikan.

Ini adalah tingkatan tertinggi dan yang paling utama dalam menghadapi cobaan. Karena ia bisa bersyukur atas musibah yang menimpanya. Oleh karena itu, ia bisa menjadi hamba Allah yang penuh rasa syukur ketika ia melihat masih banyak orang lain yang lebih berat musibahnya dibandingkan dirinya. Musibah dalam hal dunia lebih ringan dibandingkan musibah dalam hal agama, karena adzab di dunia lebih ringan dibandingkan adzab di akhirat.

Pada hakikatnya, musibah adalah penghapus dosa dan akan menjadi tambahan kebaikan di sisi Allah tatkala ia menjadi hamba yang bersyukur. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah suatu kelelahan, sakit, kesedihan, kegundahan, bahkan tusukan duri sekali pun, kecuali akan menjadi penghapus dosa baginya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Demikianlah tingkatan sikap menghadapi cobaan, kita berharap bisa digolongkan minimal sebagai orang bersabar, tatkala tertimpa musibah, dan berusaha semaksimal mungkin menjadi orang yang ridha dan bersyukur tatkala tertimpa musibah. Semoga

Referensi: Al-Qaulul Mufid